Karya Ilmiah Remaja di Sekolah YPS

Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) merupakan organisasi siswa yang berada dalam subordinasi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di Sekolah umum Yayasan Pendidikan Soroako. KIR bergerak dalam bidang pengembangan keterampilan ilmiah siswa. Kegiatan KIR khusunya di SMP YPS diorganisir dalam bentuk organisasi siswa yaitu KIR Quantum.

KIR Quantum mengemban misi pengembangan keterampilan ilmiah siswa yang meliputi tiga aspek yaitu proses ilmiah, karya ilmiah, dan sikap ilmiah. KIR Quantum juga melakukan kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler dalam bentuk program kerja pada tiga bidang struktur organisasi yaitu bidang pendidikan dan penelitian, bidang pengembangan organisasi, dan bidang pengabdian kepada masyarakat. KIR Quantum melakukan pembinaan siswa melalui dua metode yaitu (1) formal,  yaitu kegiatan pendidikan dan pelatihan secara sistematis, dan (2) informal, yaitu pengurusan kegiatan organisasi.

Pentingnya keterampilan berpikir dimiliki oleh siswa sangat mendukung kemampuan dalam belajar dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Salah bentuk keterampilan berpikir yang penting dimiliki oleh siswa adalah keterampilan berpikir ilmiah. Meningkatkan keterampilan berpikir ilmiah bagi siswa dapat dilakukan dengan melalui penciptaan situasi/lingkungan yang menstimulasi siswa untuk melatih menemukan masalah dan membimbingnya menemukan solusi berdasarkan langkah-langkah metode ilmiah. Baca lebih lanjut

English Camp: Menapak Jalan Bilingual

tenda

Pentingnya penguasaan bahasa internasional dalam menunjang kepartisipasian “pergaulan” global, memunculkan kesadaran sekolah-sekolah saat ini mengembangkan program peningkatan kemampuan berbahasa inggris anak didiknya. Berbagai kegiatan inovatif dilakukan guna merangsang anak terbiasa menggunakan bahasa inggris. Sebagian orang tua yang menyadari hal ini, bahkan tak segan mengeluarkan biaya tambahan bagi anaknya dengan memberikan les privat, kursus ataupun terlibat dalam klub-klub meeting. Pendidikan anak yang berkualitas benar sebuah investasi masa depan dan satu gaya hidup modern. Baca lebih lanjut

YPS: Success through Performance Management

Semua leader menghendaki organisasi yang dipimpinnya sukses mencapai target. Namun, tak jarang pula dalam akhir term evaluasi malah kegagalan yang didapatkan. Dalam kondisi gagal, Kambing yang paling hitam untuk disalahkan adalah kinerja bawahan/anggota team yang tidak optimal. Sebagai anggota team, yah… terima sajalah kenyataan “hitam” yang diberikan!!!. Padahal secara obyektif, mungkin penyebab kegagalan disebabkan oleh leader yang kurang ahli mengoptimalkan potensi anggotanya.

Ketika ditelusuri lebih mendalam, sesungguhnya ada beberapa alasan yang menjadi penyebab anggota team tidak berkinerja sebagaimana yang diharapkan. Alasan tersebut antara lain, Mereka tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana melakukannya, dan mengapa mereka harus melakukannya. Halangan-halangan di luar kendali team dibiarkan atau diabaikan, tidak yakin apa yang dilakukan itu penting atau akan berhasil. Persepsi cara lama mereka lebih baik, tidak termotivasi, merasa tidak cukup waktu dan tidak mampu. Ataukah struktur kerja yang tidak jelas dan tidak ada feedback. Bahkan masalah pribadi anggota team, kadang menjadi penyebab utama rendahnya kinerja team.

Baca lebih lanjut

Aku Kembalikan ya Allah

Aku kembalikan, ya Allah
Sadrah Rianto (menjelang Idul Fitri 2007)

Hati ini aku kembalikan ya Allah
Aku pulangkan ia kepadaMu
Sebab aku tak tahu lagi
harus kepada siapa ia ku kembalikan

Ampuni aku ya Allah
Warnanya tak lagi putih seperti dulu

ketika Engkau hembuskan hidup
kedalam rahim cinta ibuku.

Ia telah sangat kotor.
Busuk.
Hitam pekat dan berkarat disana-sini. 

Hati ini aku kembalikan ya Allah
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Tapi

Telah aku kotori ia dengan dengki
sebab aku tak mampu melakukan
apa yang orang lain lakukan,
bahkan ketika orang lain
mengulurkan berjuta untaian kebaikan. 

Telah aku kotori ia dengan cemburu
sebab aku merasa tak punya apa-apa,
bahkan ketika aku tahu aku tidak miskin.

Telah aku kotori ia dengan benci
sebab aku telah hinakan orang lain,
bahkan ketika mereka
menawarkan senyum dan uluran tangan.

Hati yang aku kembalikan ini
telah membusuk, ya Allah

Aku telah siakan ia setiap hari.
Setiap tarikan nafasku.
Setiap langkahku.
Setiap guguran daun menyentuh kakiku.
Setiap embun membasuh lukaku.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Bahkan setiap kali bunga-bunga yang aku injak itu,
menyisakan wanginya di kakiku yang kejam menginjaknya. 

Aku berpaling
dari tawaran-tawaran keriangan kasih sayang.
Aku palingkan ia dengan sangat gagah
dari uluran cinta orang-orang pengasih.

Duhai Yang Maha Memiliki

Aku hitam pekatkan hati ini dengan kemarahan,
bahkan ketika orang-orang tidak melakukan apa-apa. 

Dan aku pekatkan ia dengan menutup telinga,
bahkan ketika aku mendengar Engkau memanggil.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Ketika kasihMu begitu jelas dipelupuk mataku,
di urat nadiku,
di helaan nafasku,
di detak jantungku. 

Aku telah pekatkan hati pemberianMu ini
dengan mendustai KemahaanMu.

Aku tundukkan wajahku
setunduk-tunduknya sujud ya Allah,
sambil aku kembalikan ia
kedalam genggaman tanganMu,
sebab tak ada lagi tangan yang mau menerimanya.

Ambillah ia, ya Allah.
Dengan kepasrahanku yang memalukan,
ambillah ia ya Allah.
Dengan kesombonganku yang sangat dina,
ambillah ia ya Allah.
Dengan airmataku yang malu,
ambillah ia, ya Allah.

Aku pasrahkan kembali hatiku kepadaMu,
wahai Yang Maha Pengampun.

Ampuni Aku

Ampuni aku

Ampuni aku

Biar

Biar
Sadrah Rianto, July 2006

Biarlah cinta yang terluka ini aku bawa-bawa
sebab tak ada lagi yang bisa aku lakukan.
Retakan hatiku tak lagi punya tempat buat yang selain cinta itu
Meski rombeng terkoyak, ku peluk juga ia
seerat dulu ketika kau dekap aku, cintaku dan rinduku.
Meski telah pekat warna hitam tetesan darahnya,
kucium juga ia
sebab tak ada lagi yang bisa aku lakukan.

Aku pamit.

Aku pasti tak pulang
Sebab  pintu itu telah tertutup rapat
Akan sia-sia aku mengetuknya.
Aku pasti tak akan pulang.

Sungkemku Lebaran Ini

SUNGKEMKU LEBARAN INI
(Sadrah Rianto, menjelang Idul Fitri 2006)

Sungkemku lebaran ini
Adalah sungkem kepada mereka
yang harus lapar lebih lama
bukan karena puasa,
tapi karena teramat miskin
hingga tak sepotong tahu gorengpun mampu dibelinya

Adalah sungkem kepada mereka
yang terbangun dini hari
bukan untuk makan sahur,
tapi untuk melihat
apakah anak-anaknya masih ada disisinya,
di kolong jembatan yang tiap hari kulalui.

Adalah sungkem kepada mereka
yang terkapar sakit
sebab tak satu butir obatpun mampu dibelinya.

Sungkemku lebaran ini
Adalah sungkem kepada gadis-gadis belia
yang harus membuka baju
dan menjual tubuh pada yang pantas
menjadi ayah mereka
.

Adalah sungkem
kepada pekerja kanak-kanak
yang harus melupakan mobil-mobilan
sebab tangan mereka harus menadah,
meminta-minta sesuai perintah orang-orang
yang harusnya menjadi orangtua mereka.

Sungkemku lebaran ini
Adalah sungkem kepada
perempuan-perempuan yang kuat-kuat menggigit bibir,
menahan kata,
menyimpan sakit
atas layangan tangan laki-laki
yang semestinya jadi pelindung mereka.

Adalah sungkem
kepada orang-orang tua kesepian
yang cuma bisa diam menunggu
anak-anak yang tak pernah datang
mencium tangan mereka.

Sungkemku lebaran ini, Tuhan.
Adalah sungkem memohon ampun.

Ampun Tuhanku.
Ampuni aku yang asyik dengan diriku sendiri.

Bagaimana mungkin, anakku?

Bagaimana mungkin
Sadrah Rianto, Jan 2007

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau ketika engkau tidurpun
aku merasakan cinta dan kelembutanmu
yang menggelora jauh ke dalam hatiku…

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau hanya dengan sedikit sunggingan dibibirmu saja,
aku merasa surga telah dipindahkan olehNya
dari atas sana ke bumi yang kupijak…

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau dengan sedikit saja
sentuhan jari-jarimu di pipiku
rasanya hidup ini jadi begitu cantik dan mulia

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau hanya dengan sedikit sentuhan bibirmu
di pipiku
rasanya pelangi menari dihadapanku
dan warnanya jadi lebih meriah dan lebih indah…
Kalau tanpa melakukan apa-apapun
engkau telah menyejukkan jiwaku.

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau seluruh jiwaku ada di jiwamu.

Problem Klasik dan Klise PSB YPS

Setiap tahun penerimaan siswa baru (PSB) di YPS selalu mendapatkan masalah. Problem ini sepertinya telah menjadi ritual tahunan yang entah sampai kapan akan berakhir. Setiap tahun panitia, kepala sekolah sampai pengurus yayasan harus berurusan dengan masalah yang boleh dibilang klasik dan klise. Uniknya, Kondisi ini terjadi selama satu dasa warsa terakhir. Apa sesungguhnya yang terjadi dalam proses penerimaan siswa baru di YPS???

YPS sebagai yayasan yang dibentuk PT. Inco merupakan salah satu “benefit” yang diperuntukkan bagi karyawan. YPS mengemban tugas pemberian layanan pendidikan bagi anak karyawan PT. Inco. Sehingga  karyawan tidak perlu risau memikirkan kualitas pendidikan sekolah anak walaupun harus bekerja di lokasi kerja di Soroako yang letaknya di pedalaman Verbek ini. YPS diharapkan menjadi daya tarik bagi karyawan berkualitas agar dapat betah bekerja di PT. Inco.

Namun demikian, perkembangan situasi nasioanal dan didorong rasa tanggung jawab sosial dalam mengembangkan masyarakat di area kerja perusahaan, sekolah-sekolah YPS membuka pintu bagi anak penduduk asli. Dalam proses ini, YPS harus berkoordinasi dengan pihak Goverment Relation dan HROD PT. Inco serta organisasi masyarakat asli Soroako.

Bertambahnya stakeholder berimplikasi pada bertambahnya beban yang harus ditanggung oleh sekolah-sekolah YPS. Dalam artian bahwa semakin bertambahnya anak yang berpeluang mendapatkan akses bersekolah di YPS, setiap tingkatan sekolah harus menambah jatah siswa yang akan masuk pada setiap tahunnya. Sementara itu,  daya tampung dan fasilitas sumber daya pendukung memiliki keterbatasan. Maka solusi utama yang ditempuh oleh sekolah-sekolah YPS, melakukan seleksi penerimaan siswa baru.

Dalam seleksi penerimaan siswa baru, hasilnya selalu mendapatkan masalah. Beberapa orang tua merasa tidak berterima dengan ketidaklulusan anaknya dalam PSB. Mereka biasanya melakukan permintaan klarifikasi kepada panitia dan kepala sekolah. Bahkan tidak jarang, orang tua meminta intervensi manajemen perusahaan sehingga pengurus yayasan harus terlibat dalam menentukan keputusan yang harus dilakukan oleh sekolah.

Beberapa masalah yang seringkali muncul dalam PSB setelah pengumuman seleksi dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. anak karyawan dan berdomisili di luar soroako (red: jarak, transpor dan mobilitas anak)
  2. anak karyawan dan berasal dari sekolah luar YPS (red: daya tampung sekolah)
  3. orang tua tidak mau tau dengan hasil tes, pokoknya anak harus diterima karena memiliki hak yang sama.
  4. orang tua menganggap anaknya lebih bisa dibanding yang lain, tetapi malah dia yang tidak lolos seleksi. Sehingga orang tua meminta transparansi hasil tes.
  5. persepsi adanya “konektivisme” dalam penentuan hasil seleksi PSB.
  6. dugaan adanya kebocoran soal yang digunakan dalam seleksi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh sekolah dalam mengatasi persoalan-persoalan klasik di atas. Mulai dari sistem skorer atas sekolah asal, lokasi domisili dan nilai hasil tes. Bahkan kali ini, panitia ujian SMP membuat print out hasil tes bagi mereka memerlukan untuk lebih meyakinkan. Tetapi riak tetap saja terjadi, di TK  sampai SMA. 

Mengapa problem PSB ini terus berlanjut dari tahun ke tahun? Apakah  sistem PSB dan solusi yang ada saat ini tidak memberikan kenyamanan bagi mereka yang membutuhkan? yang pasti bahwa setiap tahun persoalan dalam PSB dapat terselesaikan, namun setiap tahun persoalan yang sama atau baru dapat saja muncul kembali.

Dalam diskusi informal yang berkembang di kalangan guru, problem dalam PSB dapat saja dieliminir. Beberapa pemikiran yang diwacanakan dapat dilakukan untuk hal itu adalah:

  1. Rekrutmen siswa di sekolah YPS hanya dilakukan di TK. TK merupakan tahap Pra sekolah di mana anak dipersiapkan mental, skill dan prilaku dasar untuk mengikuti pembelajaran ketika memasuki  tahap sekolah. Unit SD, SMP dan SMA merupakan tingkatan-tingkatan kelas yang diklasifikasikan berdasarkan usia perkembangan psikologis. Dengan demikian, pembentukan pribadi yang berkarakter visi YPS dapat tercapai karena kesinambungan pembinaan. dan praktis terminologi PSB di SD, SMP dan SMA tidak digunakan karena tidak dilakukan. 
  2. Kalaupun tetap ada rekrutmen di SD, SMP, dan SMA, sekolah harus melakukannya secara terbuka (transparan). Instrumen seleksi dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan bukannya pertanyaan tertutup. Selama ini, instrumen dibuat dalam bentuk soal pilihan ganda ( pertanyaan tertutup) sehingga anak memungkinkan menjawab atas tebakan keberuntungan/kesialan dan hasilnya tidak mencerminkan kemampuan sesungguhnya. Hasil tes dikelola secara transparan sehingga tidak memunculkan kecurigaan. Untuk hal ini, YPS memerlukan sistem yang mapan.
  3. Pembinaan sekolah luar YPS harus diakselerasi dengan program yang visioner, kreatif dan bersinergi. Hal ini diperlukan untuk menjaga gap yang berlebihan antara kondisi YPS dan sekolah luar YPS. Dengan demikian, perubahan paradigma tentang YPS sebagai satu-satunya harapan untuk pendidikan anak berkualitas oleh masyarakat dapat dinetralisir. 

Ketiga alternatif di atas merupakan solusi yang patut dipertimbangkan oleh pengurus YPS untuk dikaji kemungkinan diimplementasikan. Alternatif tersebut bukanlah hal baru bagi YPS, namun sebagai wacana intelektual mungkin dapat menjadi solusi kreatif dan radikal untuk mengatasi problem klasik dan klise dalam PSB. Dengan  visi yang mengemban paradigma baru YPS, solusi di atas merupakan upaya yang dapat mempercepat terwujudnya harapan.

“Perubahan membutuhkan komitmen yang luar biasa untuk memulai dan menuntaskannya, dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang luar biasa”

Tulisan-tulisan Mahmuddin dapat dibaca di http://mahmuddin.wordpress.com

Meraih Mimpi 2030

Data Buku

Judul                 : Kurikulum yang Mencerdaskan; Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif

Editor                : A. Ferry T. Indratno

Penerbit            : KOMPASMimpi 2003

Tahun Terbit      : 2007

Tebal                : 512 Halaman

 

Kurikulum yang Mencerdaskan, Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif merupakan refleksi perkembangan pendidikan di masa lalu dan proyeksi masa depan bangsa ini. Buku yang lahir dari makalah-makalah yang disajikan dalam Forum Mangunan ini, sesuai dengan judulnya terbagi atas dua bagian, yakni Visi 2030 bangsa Indonesia dan pendidikan alternatif.

Visi 2030 dilahirkan Indonesia Forum yang dibentuk Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. Gagasan yang berisi mimpi bangsa Indonesia dalam kurung 22 tahun wakyu mendatang. Mengapa mimpi? Pencapaian yang hendak dituju kelihatan hanya dapat dicapai melalui keberuntungan. Betapa tidak, para pengagas visi itu mencanangkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia kelima setelah Cina, India, Amerika, dan Uni Eropa di saat itu. Sebuah mimpi yang rasanya hanya betul-betul akan menjadi mimpi.

Baca lebih lanjut