YPS LEGACY

Biar

Mei 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Biar
Sadrah Rianto, July 2006

Biarlah cinta yang terluka ini aku bawa-bawa
sebab tak ada lagi yang bisa aku lakukan.
Retakan hatiku tak lagi punya tempat buat yang selain cinta itu
Meski rombeng terkoyak, ku peluk juga ia
seerat dulu ketika kau dekap aku, cintaku dan rinduku.
Meski telah pekat warna hitam tetesan darahnya,
kucium juga ia
sebab tak ada lagi yang bisa aku lakukan.

Aku pamit.

Aku pasti tak pulang
Sebab  pintu itu telah tertutup rapat
Akan sia-sia aku mengetuknya.
Aku pasti tak akan pulang.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sastra · Tak Berkategori
Ditandai: ,

Sungkemku Lebaran Ini

Mei 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

SUNGKEMKU LEBARAN INI
(Sadrah Rianto, menjelang Idul Fitri 2006)

Sungkemku lebaran ini
Adalah sungkem kepada mereka
yang harus lapar lebih lama
bukan karena puasa,
tapi karena teramat miskin
hingga tak sepotong tahu gorengpun mampu dibelinya

Adalah sungkem kepada mereka
yang terbangun dini hari
bukan untuk makan sahur,
tapi untuk melihat
apakah anak-anaknya masih ada disisinya,
di kolong jembatan yang tiap hari kulalui.

Adalah sungkem kepada mereka
yang terkapar sakit
sebab tak satu butir obatpun mampu dibelinya.

Sungkemku lebaran ini
Adalah sungkem kepada gadis-gadis belia
yang harus membuka baju
dan menjual tubuh pada yang pantas
menjadi ayah mereka
.

Adalah sungkem
kepada pekerja kanak-kanak
yang harus melupakan mobil-mobilan
sebab tangan mereka harus menadah,
meminta-minta sesuai perintah orang-orang
yang harusnya menjadi orangtua mereka.

Sungkemku lebaran ini
Adalah sungkem kepada
perempuan-perempuan yang kuat-kuat menggigit bibir,
menahan kata,
menyimpan sakit
atas layangan tangan laki-laki
yang semestinya jadi pelindung mereka.

Adalah sungkem
kepada orang-orang tua kesepian
yang cuma bisa diam menunggu
anak-anak yang tak pernah datang
mencium tangan mereka.

Sungkemku lebaran ini, Tuhan.
Adalah sungkem memohon ampun.

Ampun Tuhanku.
Ampuni aku yang asyik dengan diriku sendiri.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sastra · Tak Berkategori
Ditandai: , , ,

Bagaimana mungkin, anakku?

Mei 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bagaimana mungkin
Sadrah Rianto, Jan 2007

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau ketika engkau tidurpun
aku merasakan cinta dan kelembutanmu
yang menggelora jauh ke dalam hatiku…

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau hanya dengan sedikit sunggingan dibibirmu saja,
aku merasa surga telah dipindahkan olehNya
dari atas sana ke bumi yang kupijak…

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau dengan sedikit saja
sentuhan jari-jarimu di pipiku
rasanya hidup ini jadi begitu cantik dan mulia

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau hanya dengan sedikit sentuhan bibirmu
di pipiku
rasanya pelangi menari dihadapanku
dan warnanya jadi lebih meriah dan lebih indah…
Kalau tanpa melakukan apa-apapun
engkau telah menyejukkan jiwaku.

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, anakku?
Kalau seluruh jiwaku ada di jiwamu.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sastra · Tak Berkategori
Ditandai: , ,