Setiap tahun penerimaan siswa baru (PSB) di YPS selalu mendapatkan masalah. Problem ini sepertinya telah menjadi ritual tahunan yang entah sampai kapan akan berakhir. Setiap tahun panitia, kepala sekolah sampai pengurus yayasan harus berurusan dengan masalah yang boleh dibilang klasik dan klise. Uniknya, Kondisi ini terjadi selama satu dasa warsa terakhir. Apa sesungguhnya yang terjadi dalam proses penerimaan siswa baru di YPS???
YPS sebagai yayasan yang dibentuk PT. Inco merupakan salah satu “benefit” yang diperuntukkan bagi karyawan. YPS mengemban tugas pemberian layanan pendidikan bagi anak karyawan PT. Inco. Sehingga karyawan tidak perlu risau memikirkan kualitas pendidikan sekolah anak walaupun harus bekerja di lokasi kerja di Soroako yang letaknya di pedalaman Verbek ini. YPS diharapkan menjadi daya tarik bagi karyawan berkualitas agar dapat betah bekerja di PT. Inco.
Namun demikian, perkembangan situasi nasioanal dan didorong rasa tanggung jawab sosial dalam mengembangkan masyarakat di area kerja perusahaan, sekolah-sekolah YPS membuka pintu bagi anak penduduk asli. Dalam proses ini, YPS harus berkoordinasi dengan pihak Goverment Relation dan HROD PT. Inco serta organisasi masyarakat asli Soroako.
Bertambahnya stakeholder berimplikasi pada bertambahnya beban yang harus ditanggung oleh sekolah-sekolah YPS. Dalam artian bahwa semakin bertambahnya anak yang berpeluang mendapatkan akses bersekolah di YPS, setiap tingkatan sekolah harus menambah jatah siswa yang akan masuk pada setiap tahunnya. Sementara itu, daya tampung dan fasilitas sumber daya pendukung memiliki keterbatasan. Maka solusi utama yang ditempuh oleh sekolah-sekolah YPS, melakukan seleksi penerimaan siswa baru.
Dalam seleksi penerimaan siswa baru, hasilnya selalu mendapatkan masalah. Beberapa orang tua merasa tidak berterima dengan ketidaklulusan anaknya dalam PSB. Mereka biasanya melakukan permintaan klarifikasi kepada panitia dan kepala sekolah. Bahkan tidak jarang, orang tua meminta intervensi manajemen perusahaan sehingga pengurus yayasan harus terlibat dalam menentukan keputusan yang harus dilakukan oleh sekolah.
Beberapa masalah yang seringkali muncul dalam PSB setelah pengumuman seleksi dapat diidentifikasi sebagai berikut:
- anak karyawan dan berdomisili di luar soroako (red: jarak, transpor dan mobilitas anak)
- anak karyawan dan berasal dari sekolah luar YPS (red: daya tampung sekolah)
- orang tua tidak mau tau dengan hasil tes, pokoknya anak harus diterima karena memiliki hak yang sama.
- orang tua menganggap anaknya lebih bisa dibanding yang lain, tetapi malah dia yang tidak lolos seleksi. Sehingga orang tua meminta transparansi hasil tes.
- persepsi adanya ”konektivisme” dalam penentuan hasil seleksi PSB.
- dugaan adanya kebocoran soal yang digunakan dalam seleksi.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh sekolah dalam mengatasi persoalan-persoalan klasik di atas. Mulai dari sistem skorer atas sekolah asal, lokasi domisili dan nilai hasil tes. Bahkan kali ini, panitia ujian SMP membuat print out hasil tes bagi mereka memerlukan untuk lebih meyakinkan. Tetapi riak tetap saja terjadi, di TK sampai SMA.
Mengapa problem PSB ini terus berlanjut dari tahun ke tahun? Apakah sistem PSB dan solusi yang ada saat ini tidak memberikan kenyamanan bagi mereka yang membutuhkan? yang pasti bahwa setiap tahun persoalan dalam PSB dapat terselesaikan, namun setiap tahun persoalan yang sama atau baru dapat saja muncul kembali.
Dalam diskusi informal yang berkembang di kalangan guru, problem dalam PSB dapat saja dieliminir. Beberapa pemikiran yang diwacanakan dapat dilakukan untuk hal itu adalah:
- Rekrutmen siswa di sekolah YPS hanya dilakukan di TK. TK merupakan tahap Pra sekolah di mana anak dipersiapkan mental, skill dan prilaku dasar untuk mengikuti pembelajaran ketika memasuki tahap sekolah. Unit SD, SMP dan SMA merupakan tingkatan-tingkatan kelas yang diklasifikasikan berdasarkan usia perkembangan psikologis. Dengan demikian, pembentukan pribadi yang berkarakter visi YPS dapat tercapai karena kesinambungan pembinaan. dan praktis terminologi PSB di SD, SMP dan SMA tidak digunakan karena tidak dilakukan.
- Kalaupun tetap ada rekrutmen di SD, SMP, dan SMA, sekolah harus melakukannya secara terbuka (transparan). Instrumen seleksi dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan bukannya pertanyaan tertutup. Selama ini, instrumen dibuat dalam bentuk soal pilihan ganda ( pertanyaan tertutup) sehingga anak memungkinkan menjawab atas tebakan keberuntungan/kesialan dan hasilnya tidak mencerminkan kemampuan sesungguhnya. Hasil tes dikelola secara transparan sehingga tidak memunculkan kecurigaan. Untuk hal ini, YPS memerlukan sistem yang mapan.
- Pembinaan sekolah luar YPS harus diakselerasi dengan program yang visioner, kreatif dan bersinergi. Hal ini diperlukan untuk menjaga gap yang berlebihan antara kondisi YPS dan sekolah luar YPS. Dengan demikian, perubahan paradigma tentang YPS sebagai satu-satunya harapan untuk pendidikan anak berkualitas oleh masyarakat dapat dinetralisir.
Ketiga alternatif di atas merupakan solusi yang patut dipertimbangkan oleh pengurus YPS untuk dikaji kemungkinan diimplementasikan. Alternatif tersebut bukanlah hal baru bagi YPS, namun sebagai wacana intelektual mungkin dapat menjadi solusi kreatif dan radikal untuk mengatasi problem klasik dan klise dalam PSB. Dengan visi yang mengemban paradigma baru YPS, solusi di atas merupakan upaya yang dapat mempercepat terwujudnya harapan.
“Perubahan membutuhkan komitmen yang luar biasa untuk memulai dan menuntaskannya, dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang luar biasa”
Tulisan-tulisan Mahmuddin dapat dibaca di http://mahmuddin.wordpress.com
4 tanggapan so far ↓
Vonny Tobing // Mei 28, 2008 pada 12:50 am |
Salam kenal dari saya pak Mahmudin, PSB itu apa sih pak ? Maklum sudah lama tidak beredar di Sorowako jadinya agak2 ngga nyambung. Saya juga mendengar banyak masalah yang timbul setiap kali tahun ajaran baru dimulai. Mudah2an semakin hari YPS semakin maju dan bisa bersaing dengan sekolah2 bermutu di kota besar
pank // Mei 28, 2008 pada 6:37 am |
@bun Vonny: PSB itu g salah adlh Penerimaan Siswa Baru bunda…. *ato Pasang Sambung Baru y.. hi5x…
@ YPS: hmmm, klo setiap jabatan dijalankan sesuai fungsinya masing2 mungkin tdk ada masalah… yang managemen ngurus managemen… yang PSB ngurus PSB… jarene profesional to… n than, untuk menghadapi beberapa orang tua siswa yg agak endemik *m’ngerti kan?? hi5x.. susyehx minta ampun… soalx dulu saya pernah melihat ada orang tua calon siswa yg mencak2 g karuan karna anakx g d terima d YPS…. hiiiii, takuttt… buka mata.. ini nyata, hanya di Sorowako… Hidup Sorowako, Bravo YPS!!!!
Mahmuddin // Mei 28, 2008 pada 8:27 am |
Terima kasih dan salam kenal juga ibu Vonny…!!! Gimana kabar keluarga, masih di Canada??? Kapan balik ke Indonesia (Sorowako)???
YPS memerlukan support dari stakeholder yang peduli terhadap perkembangan pendidikan.
Oh iya… PSB= Penerimaan Siswa Baru, dilaksanakan pada setiap menjelang tahun ajaran baru.
Salam buat keluarga
Sultan // Juni 5, 2008 pada 4:08 pm |
Ada juga yang bilang PSB= Problem Seperti Biasa …he…he.. just kidding